Langsung ke konten utama

JOURNEY #3



KECEWALAH DENGAN BAHAGIA


Haii semuanya, semoga selalu dalam keadaan baik dan menjadi support system bagi sekeliling kalian.

Nah kesempatan kali ini aku lagi pengen sharing sedikit mengenai ceritaku 2 pekan terakhir ini.
Jadi selama hampir 2 sampai 3 pekan ini aku itu lagi banyak banget pikiran mengenai tanggungjawabku dalam Tugas Akhir, dimana melihat sebagian teman-temanku sudah melangkahkan semangat dan pikirannya untuk conclusion. Sedangkan aku masih harus mondar-mandir karena syarat pengajuan penelitian selalu masih kurang, nelpon ke instansi tapi dialihkan ke beda-beda bagian, sampai search di google dengan key words yang mulai gak wajar. Hal ini cukup membuatku ngedown banget beneran, mereka sudah mulai mengerjakan pembahasan tapi aku? data saja belum punya, memang salahku juga tidak benar-benar memastikan semua data benar-benar bisa ku peroleh, dan hanya modal sampling. Pernah disatu waktu aku pergi ke instansi daerah X karena datanya tidak bisa ku akses melalui internet, ku kira semua proses akan sama seperti instansi yang lain. Ternyata instansi tersebut memiliki regulasi yang cukup tertata sehingga segala syarat pengajuanku kurang semua. Diwaktu yang bersamaan ternyata surat penelitian yang diberikan oleh kampusku juga ada kesalahan judul, jadi surat tersebut sudah gak valid lagi. Ya ini lagi-lagi keteledoran adalah aku, padahal aku ke instansi tersebut juga hujan-hujannan. Bayangin ke instansi pake bawahan basah dan airnya masih netes-netes dan basahin ubin, malah dikira habis pipis sama pegawainya.

Segala penolakan dihari itu memang menjadi tamparan keras buat ku, terutama keadaan yang tidak bisa kuajak kerjasama, dan diriku juga yang kurang bisa diajak kerjasama. Sebenarnya penolakan akan hal tersebut memang wajar, tapi entah kenapa bagiku saat itu sulit ku terima dengan lapang. Entah karena berkecil hati atau memang sedang kecewa yang mendalam aku pulang dalam keadaan nangis, padahal itu dijalan raya. Dilampu merah hanya diem mandang traffic light sambil nangis. Untung nangisnya gak pake cegukan, jadi gak banyak orang yang tau. Selama hampir sejam dijalan aku nangis-nangis sama ngomong-ngomong gajelas sendiri berharap gaada pengendara lain yang tau. Nah disitu aku sadar, sepertinya hubunganku sama Allah memang sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya aku terlalu angkuh untuk berkeluh kesah denganNYA. Sepertinya aku berbeda dengan diriku-diriku sebelumnya, Dan aku tau aku sedang kehilangan diriku sendiri. 

Aku cukup tersadar kembali setelah hal itu, dan yang ku yakini aku hanya harus berusaha dan berserah. Aku berharap Allah menolongku sebelum aku menyerah. Akhirnya aku menemukan pertolongan itu melalui teman seangkatanku  dan kakak tingkatku yang sudah bekerja serta kakak tingkat yang akan wisuda gelar magisternya. Mereka yang memiliki kepedulian luar biasa dengan ku. Ternyata mereka memiliki beberapa data yang ku butuhkan dan bahkan aku gak pernah berfikir kalau merekalah yang akan membantuku.  Diluar hal itu muncul Pertanyaan, “Kenapa tidak kemarin-kemarin saja aku bertemu dengan mereka?”. Lagi-lagi Allah memang pembuat scenario yang epic, Allah ingin aku kecewa dan sadar bahwa aku hanya bisa bergantung kepada-Nya. Allah juga mengirimiku penolong dengan karakter yang membuatku jatuh cinta dengan mereka. Bagaimana bisa mereka menolongku dengan sangat baik dan meluangkan waktu serta pikiran hanya untuk membantuku. Bahkan terselip dibenak mereka untuk menerima dibalas budi saja tidak, mereka bahkan juga tidak melihat apakah aku adalah teman dekat mereka atau bukan, berkontribusi bagi mereka atau tidak. Aku hanya melihat dari sikap mereka yang mengatakan "Aku ingin berbuat kebaikan dan berguna bagi sekelilingku", sikap merekalah yang membuatku jatuh cinta tiada hentinya.

Mungkin saat ini diantara kalian ada yang sedang kecewa, entah kecewa dengan orang lain atau kecewa dengan diri kalian sendiri. Tapi yang pasti Allah hanya ingin mengirimi kalian penolong dari arah dan waktu yang tidak disangka, dan tersadar bahwa tidak ada tempat lain selain Allah untuk berharap. Semangat untuk selalu positif terhadap segala kekecewaan. Karena patah akan menumbuhkan tegak, sakit menumbuhkan kuat dan syukur menumbuhkan lega. 

Tawangsari, 30 April 2019

Komentar

  1. Pingkan, memang benar terkdang kita terlalu sombong untuk mengira bahwa kita bisa sendiri dengan cara menyepelakan hal hal kecil, kadang juga kita terlalu angkuh hingga lupa bahwa semuanya tak lepas dari ridho gusti allah. Semuanga pasti berlalu pingkan pasrahkan semuanya kepada yang maha kuasa. Aku yakin kamu bisa dengan semua tekanan tekanan yg ada di dihidupmu itu. Semangat

    BalasHapus
  2. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Niatkan semua karenaNya. Yakinlah,pertolongan Allah itu sangat dekat dek, bahkan di saat kita hampir putus asa๐Ÿ’› Tetap semangat๐Ÿ’•๐Ÿ’•

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena sebegitu dekatnya saya sampai lupa mbak.

      Terimakasih atas semangat dan bantuannya ya mbak:)

      Hapus
  3. Semangaat, adek.. Semoga Allah beri kekuatan melewati tugas akhir..

    Selalu ingat QS. Al-Insyirah ayat 5 dan 6
    "Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, terlalu suudzon sama Allah mbak.

      Terimakasih atas bimbingan dan bantuannya mbak:)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REDUP

  Redup bergelayut diujung langit Mimpi kembali menanyakan dimana tempatnya   Cahaya kecil dilangit bagian selatan itu mulai menolehku Tersenyum kecil melihat kabarku kini   Aku mulai memikirkan dimana letak pasti mimpiku kini, Atau jangan-jangan aku sendiri yang belum meletakkannya Kalau memang benar aku belum meletakkannya, mengapa aku terlalu terburu-buru mencarinya?   Cahaya itu melirikku kembali, Sepertinya ia tahu dimana letak mimpiku Jika ia tahu kenapa ia tidak memberitahuku? Aku mulai memikirkan kembali Apakah ia masih berada ditengah laut yang sedang bertengkar dengan ombak? Atau masih berada ditanah gersang berteman dengan debu-debu kasar?       27 Februari 2021

JOURNEY #6

Hallo semuanya, teman nyata dalam jarakku. Bagaimana kabar kalian? Harapku semoga Tuhan melindungi kita semua dan mendekatkan hal baik untuk kita. Untuk mengawali tulisan pertama ku di tahun   2020 ini, aku ingin bercerita sedikit. Sudah lama rasanya ya aku tidak menulis. Kemarin sempat berkeinginan untuk mencoba konsisten untuk menulis setiap pekan tapi ternyata cobaan lebih berat dibanding niatku hehehehe. Hari ini aku mendengar cerita dari teman lama yang sudah lama aku tak besua dengannya. Kita saling mempertanyakan hal yang serupa, bagaimana cara rezeki memilih jiwa sebenarnya?. Bagaimana bisa kita berusaha semaksimal mungkin tapi sesuatu yang kita impikan jatuh ke tangan orang lain? Dari percakapan hari ini aku juga sempat mendengar kalimat   “Aku capek susah terus. Aku ingin kaya dan bisa memilih aku ingin hidup seperti apa” jika sekilas ku pikir, sebenarnya tujuan utama kita bukanlah kaya. Melainkan merasa bahagia dan damai. Bahagia atas kehidupan yang s...

Sebuah Cerita Singkat Untuk Waktu Yang Utuh

  Kara mulai menertawakan dirinya lagi saat ini, sedang apa ia berharap akan bertemu dengan burung gereja yang kemarin lusa ditemuinya. Ia bertanya-tanya, apakah pesannya untuk perempuan diujung jalan kemarin benar-benar tersampaikan?, seharusnya ia tidak berharap. Mengapa? Bukankah burung gereja yang ia temui kemarin sedang terluka, bukankah yang sedang terluka seharusnya diberi waktu untuk menyembuhkan diri?. Dari banyaknya hal, kenapa ia harus memikirkan perempuan ujung jalan itu? Apa hanya karena perempuan itu sedang memakai baju warna merah muda seperti yang ia sedang kenakan? Kara memang selalu seperti itu, ia memiliki pandangan sendiri yang jarang dilihat oleh orang lain.   Kara melanjutkan kegiatanannya, ia membuka lagi tulisan-tulisan usangnya, yang mungkin saja tulisan-tulisan itu sempat terinintimidasi oleh segala angka-angka yang mengelilingi dari waktu ke waktu.       Sukoharjo, 15 Juli 2023