Langsung ke konten utama

JOURNEY #2


Pernahkah terlintas dibenakmu perubahan yang lebih serius? Terutama untuk dirimu sendiri.

Ya, rasanya itu memenuhi otakku saat ini. Rasanya ingin menghilang dan memangkas masalah yang ada. Mencoba untuk menjadi diriku yang lain yang sekiranya lebih bisa aku terima.

Sebagian mereka yang mengenalku, sepertinya aku bukan tipe perempuan yang rajin bahkan mungkin terlalu pemalas dalam menghadapi masalah dan ketika aku ingin berubah sepertinya bukan hal asing lagi bagi mereka, karena aku sering mengatakan hal itu dan realisasi hanya 25% dan menurun menjadi 2% paling bagus juga 10%.

Lagi-lagi aku tipe manusia yang terlalu berpikir, entah masalah serius atau sepele.

Ada pertanyaan yang muncul dari benakku dan cukup sulit aku jawab, “sebenarnya aku ingin berubah itu  benar-benar keinginanku sendiri atau hanya keinginanku untuk mendapat pengakuan dari orang lain?”.
Ketika aku menjawab “aku ingin berubah untuk diriku sendiri” tapi nyatanya perubahan itu tak bertahan lama dan kembali ke diriku sebelumnya yang stuck dengan habit yang sama.
Ketika aku menjawab “aku ingin mendapat pengakuan dari orang lain atas kemampuanku” sepertinya itu juga can’t relate karena terkadang aku menjadi pribadi yang tak peka bahkan apatis dengan sekelilingku lalu bagaimana aku mengetahui pengakuan itu ada?

Aku tidak ingin mencari pembenaran, karena untuk apa aku bertanya pada diriku sendiri dan melakukan pembenaran atas jawabanku sendiri. Rasanya seperti aku hanya main-main dengan hidupku sendiri.

Tapi menurutku dua pilihan diatas memang saling berkaitan, terkadang kita ingin berubah ya karena kita sadar kalau saat ini memang sudah waktunya dan mesti melakukan perubahan agar kehidupan yang kita alami juga mengalami kenaikan. Kenaikan  ini mencakup segala aspek, baik keimanan, intelektual, finansial maupun yang lainnya. Bahkan secara tidak sadar kita juga merasa kalau kita membutuhkan pengakuan dari oranglain, pengakuan ini juga tidak buruk menurutku. Terkadang pengakuan bisa membuat kita bertahan untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi. Tapi jika kadar kebutuhan akan pengakuan ini berlebihan jatuhnya juga akan pencitraan.

Untuk ku dan untuk kalian yang ingin berubah memang harus berjuang lebih dalam lagi. Tidak apa jika harus stuck lagi, harus down lagi bahkan harus mengulang perubahan dari awal. Tak perlu menyenangkan orang lain atas perubahan yang dipilih, tapi jika bisa menyenangkan orang lain kenapa tidak?. Seperti alam yang membutuhkan reboisasi bahkan reklamasi, hidup juga membutuhkan pembaruan yang lebih baik lagi. Tersenyumlah, kamu tidak sendirian disini.

Tawangsari, 21 April 2019

Komentar

  1. Karena peebaikan dalam hidup itu juga di perlukan untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik.


    Btw, wes ra sah kakean pikiran, TA ne gek di rampungke sek kono!! 😅

    BalasHapus
  2. Benar sekali, perbaikan harus dilakukan setiap waktu.

    Terimakasih semangat nyaa, semoga tanggungjawab saya segera terselesaikan :)

    BalasHapus
  3. Keren bgt ceritanya, menurut pengalaman saya, dalam keinginan perubahan, akan sangat efektif jika ada sesuatu yang menjadi motivasi kita, baik itu dapat berupa seseorang maupun hal tertentu,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas pujiannya, benar sekali konsisten juga membutuhkan motivasi yang diyakini. terimakasih atas sharing pengalamannya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REDUP

  Redup bergelayut diujung langit Mimpi kembali menanyakan dimana tempatnya   Cahaya kecil dilangit bagian selatan itu mulai menolehku Tersenyum kecil melihat kabarku kini   Aku mulai memikirkan dimana letak pasti mimpiku kini, Atau jangan-jangan aku sendiri yang belum meletakkannya Kalau memang benar aku belum meletakkannya, mengapa aku terlalu terburu-buru mencarinya?   Cahaya itu melirikku kembali, Sepertinya ia tahu dimana letak mimpiku Jika ia tahu kenapa ia tidak memberitahuku? Aku mulai memikirkan kembali Apakah ia masih berada ditengah laut yang sedang bertengkar dengan ombak? Atau masih berada ditanah gersang berteman dengan debu-debu kasar?       27 Februari 2021

JOURNEY #6

Hallo semuanya, teman nyata dalam jarakku. Bagaimana kabar kalian? Harapku semoga Tuhan melindungi kita semua dan mendekatkan hal baik untuk kita. Untuk mengawali tulisan pertama ku di tahun   2020 ini, aku ingin bercerita sedikit. Sudah lama rasanya ya aku tidak menulis. Kemarin sempat berkeinginan untuk mencoba konsisten untuk menulis setiap pekan tapi ternyata cobaan lebih berat dibanding niatku hehehehe. Hari ini aku mendengar cerita dari teman lama yang sudah lama aku tak besua dengannya. Kita saling mempertanyakan hal yang serupa, bagaimana cara rezeki memilih jiwa sebenarnya?. Bagaimana bisa kita berusaha semaksimal mungkin tapi sesuatu yang kita impikan jatuh ke tangan orang lain? Dari percakapan hari ini aku juga sempat mendengar kalimat   “Aku capek susah terus. Aku ingin kaya dan bisa memilih aku ingin hidup seperti apa” jika sekilas ku pikir, sebenarnya tujuan utama kita bukanlah kaya. Melainkan merasa bahagia dan damai. Bahagia atas kehidupan yang s...

Sebuah Cerita Singkat Untuk Waktu Yang Utuh

  Kara mulai menertawakan dirinya lagi saat ini, sedang apa ia berharap akan bertemu dengan burung gereja yang kemarin lusa ditemuinya. Ia bertanya-tanya, apakah pesannya untuk perempuan diujung jalan kemarin benar-benar tersampaikan?, seharusnya ia tidak berharap. Mengapa? Bukankah burung gereja yang ia temui kemarin sedang terluka, bukankah yang sedang terluka seharusnya diberi waktu untuk menyembuhkan diri?. Dari banyaknya hal, kenapa ia harus memikirkan perempuan ujung jalan itu? Apa hanya karena perempuan itu sedang memakai baju warna merah muda seperti yang ia sedang kenakan? Kara memang selalu seperti itu, ia memiliki pandangan sendiri yang jarang dilihat oleh orang lain.   Kara melanjutkan kegiatanannya, ia membuka lagi tulisan-tulisan usangnya, yang mungkin saja tulisan-tulisan itu sempat terinintimidasi oleh segala angka-angka yang mengelilingi dari waktu ke waktu.       Sukoharjo, 15 Juli 2023