Langsung ke konten utama

Postingan

  Redup bergelayut diujung langit Mimpi kembali menanyakan dimana tempatnya   Cahaya kecil dilangit bagian selatan itu mulai menolehku Tersenyum kecil melihat kabarku kini   Aku mulai memikirkan dimana letak pasti mimpiku kini, Atau jangan-jangan aku sendiri yang belum meletakkannya Kalau memang benar aku belum meletakkannya, mengapa aku terlalu terburu-buru mencarinya?   Cahaya itu melirikku kembali, Sepertinya ia tahu dimana letak mimpiku Jika ia tahu kenapa ia tidak memberitahuku? Aku mulai memikirkan kembali Apakah ia masih berada ditengah laut yang sedang bertengkar dengan ombak? Atau masih berada ditanah gersang berteman dengan debu-debu kasar?       27 Februari 2021
Postingan terbaru

Sebuah Cerita Singkat Untuk Waktu Yang Utuh

  Kara mulai menertawakan dirinya lagi saat ini, sedang apa ia berharap akan bertemu dengan burung gereja yang kemarin lusa ditemuinya. Ia bertanya-tanya, apakah pesannya untuk perempuan diujung jalan kemarin benar-benar tersampaikan?, seharusnya ia tidak berharap. Mengapa? Bukankah burung gereja yang ia temui kemarin sedang terluka, bukankah yang sedang terluka seharusnya diberi waktu untuk menyembuhkan diri?. Dari banyaknya hal, kenapa ia harus memikirkan perempuan ujung jalan itu? Apa hanya karena perempuan itu sedang memakai baju warna merah muda seperti yang ia sedang kenakan? Kara memang selalu seperti itu, ia memiliki pandangan sendiri yang jarang dilihat oleh orang lain.   Kara melanjutkan kegiatanannya, ia membuka lagi tulisan-tulisan usangnya, yang mungkin saja tulisan-tulisan itu sempat terinintimidasi oleh segala angka-angka yang mengelilingi dari waktu ke waktu.       Sukoharjo, 15 Juli 2023  

SEPAHAM

    Manusia bisa memilih Dengan cara apa ia akan merajam waktu   Manusia bisa mengelak Akan hal-hal yang tidak ingin di lalui saat ini, tapi akan menjumpai lagi di waktu berikutnya   Aku Aku sedang mengelak akan waktu, mencoba lari dari banyak hal yang ingin aku hindari Terlebih lupa rasanya nyaman akan diri yang sebenarnya tubuh ini adalah milikku   Aku berlomba dengan anganku Siapa yang sampai ditempat paling tenang lebih dahulu Siapa yang lebih utama dalam mendaur ulang daun-daun yang jatuh di samping pohon jati itu   Tidak masalah jika yang lebih dahulu itu bukan aku Tidak masalah   Aku menerima hal yang perlahan ini, Menerima bahwa aku terlampau pelan untuk hal-hal yang aku lewati Aku ingin memahami bahwa aku memang manusia biasa Aku ingin sepaham dengan diriku seutuhnya.        

Sejauh Merajam

  Sejauh merajam Sejauh tawa melenggang layarnya ///   Hiruk apa yang memikul dengan dalam ? Pikuk apa yang meresahkan beberapa kali? ///   Entah renjana menyambut segala peluk Atau Dialog yang saling bersautan tanpa jeda   Ku katakana sekali lagi, Sejauh apapun aku bergerilya dengan angka Aku tidak akan melepaskan segala tulisan yang ada     30 Okt 21 - kara

REHAT

  Bulan purnama sudah hampir menunjukkan dirinya, saatnya bagiku untuk menunjukkan diri juga. Lama tidak muncul kembali, sepertinya memang hobiku adalah datang dan pergi, apapun itu semoga ketidakkonsisten ini bisa sedikit menemani segala keadaan yang sedang kamu rasakan. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kali ini aku kembali untuk membagi resah yang sedang aku rasakan beberapa minggu terakhir. Setiap manusia memang memiliki keresahan masing-masing, dan hal yang aku resahkan saat ini ialah aku seperti kehilangan diriku yang dulu. Aku seperti bukan diriku yang dulu namun aku tidak bisa mengatakan kalau aku adalah diriku yang baru. Aku rasa, aku menemukan kenyamanan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, aku mulai tidak memperhatikan banyak hal. Aku mulai memperdulikan hal-hal yang sekiranya memang harus aku perdulikan. Dahulu, rasanya aku terlalu banyak memperhatikan kehidupan orang lain, terlalu mengelu-elu kan kehidpan orang lain, dan mungkin juga aku kurang mengharga...

MENJELANG LUKA

Aku menjelang luka kembali Aku bergerak mendekati patah Ego datang lebih rutin Raga merancu sendirinya Jiwa meronta layaknya tak ingin di pasung Lalu hati malah bersimpul manja Seperti menemukan peraduan yang sempat hilang Apakah peraduan hatiku adalah luka? Bukan Peraduan hatiku adalah pemilik luka Pemilik yang meninggalkan luka di kehidupanku Terimakasih sudah menitipkan lukamu padaku Kamu meninggalkan tanpa belas kasih Tak apa, sudah ku rawat luka  Agar ia tumbuh menjadi senyum terbaik di setiap sapa ku. Sukoharjo, 9 April 2020

JOURNEY #6

Hallo semuanya, teman nyata dalam jarakku. Bagaimana kabar kalian? Harapku semoga Tuhan melindungi kita semua dan mendekatkan hal baik untuk kita. Untuk mengawali tulisan pertama ku di tahun   2020 ini, aku ingin bercerita sedikit. Sudah lama rasanya ya aku tidak menulis. Kemarin sempat berkeinginan untuk mencoba konsisten untuk menulis setiap pekan tapi ternyata cobaan lebih berat dibanding niatku hehehehe. Hari ini aku mendengar cerita dari teman lama yang sudah lama aku tak besua dengannya. Kita saling mempertanyakan hal yang serupa, bagaimana cara rezeki memilih jiwa sebenarnya?. Bagaimana bisa kita berusaha semaksimal mungkin tapi sesuatu yang kita impikan jatuh ke tangan orang lain? Dari percakapan hari ini aku juga sempat mendengar kalimat   “Aku capek susah terus. Aku ingin kaya dan bisa memilih aku ingin hidup seperti apa” jika sekilas ku pikir, sebenarnya tujuan utama kita bukanlah kaya. Melainkan merasa bahagia dan damai. Bahagia atas kehidupan yang s...