Langsung ke konten utama

MENJELANG LUKA



Aku menjelang luka kembali
Aku bergerak mendekati patah
Ego datang lebih rutin
Raga merancu sendirinya
Jiwa meronta layaknya tak ingin di pasung

Lalu hati malah bersimpul manja
Seperti menemukan peraduan yang sempat hilang
Apakah peraduan hatiku adalah luka?
Bukan
Peraduan hatiku adalah pemilik luka
Pemilik yang meninggalkan luka di kehidupanku

Terimakasih sudah menitipkan lukamu padaku
Kamu meninggalkan tanpa belas kasih
Tak apa, sudah ku rawat luka 
Agar ia tumbuh menjadi senyum terbaik di setiap sapa ku.



Sukoharjo, 9 April 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REDUP

  Redup bergelayut diujung langit Mimpi kembali menanyakan dimana tempatnya   Cahaya kecil dilangit bagian selatan itu mulai menolehku Tersenyum kecil melihat kabarku kini   Aku mulai memikirkan dimana letak pasti mimpiku kini, Atau jangan-jangan aku sendiri yang belum meletakkannya Kalau memang benar aku belum meletakkannya, mengapa aku terlalu terburu-buru mencarinya?   Cahaya itu melirikku kembali, Sepertinya ia tahu dimana letak mimpiku Jika ia tahu kenapa ia tidak memberitahuku? Aku mulai memikirkan kembali Apakah ia masih berada ditengah laut yang sedang bertengkar dengan ombak? Atau masih berada ditanah gersang berteman dengan debu-debu kasar?       27 Februari 2021

JOURNEY #6

Hallo semuanya, teman nyata dalam jarakku. Bagaimana kabar kalian? Harapku semoga Tuhan melindungi kita semua dan mendekatkan hal baik untuk kita. Untuk mengawali tulisan pertama ku di tahun   2020 ini, aku ingin bercerita sedikit. Sudah lama rasanya ya aku tidak menulis. Kemarin sempat berkeinginan untuk mencoba konsisten untuk menulis setiap pekan tapi ternyata cobaan lebih berat dibanding niatku hehehehe. Hari ini aku mendengar cerita dari teman lama yang sudah lama aku tak besua dengannya. Kita saling mempertanyakan hal yang serupa, bagaimana cara rezeki memilih jiwa sebenarnya?. Bagaimana bisa kita berusaha semaksimal mungkin tapi sesuatu yang kita impikan jatuh ke tangan orang lain? Dari percakapan hari ini aku juga sempat mendengar kalimat   “Aku capek susah terus. Aku ingin kaya dan bisa memilih aku ingin hidup seperti apa” jika sekilas ku pikir, sebenarnya tujuan utama kita bukanlah kaya. Melainkan merasa bahagia dan damai. Bahagia atas kehidupan yang s...

Sebuah Cerita Singkat Untuk Waktu Yang Utuh

  Kara mulai menertawakan dirinya lagi saat ini, sedang apa ia berharap akan bertemu dengan burung gereja yang kemarin lusa ditemuinya. Ia bertanya-tanya, apakah pesannya untuk perempuan diujung jalan kemarin benar-benar tersampaikan?, seharusnya ia tidak berharap. Mengapa? Bukankah burung gereja yang ia temui kemarin sedang terluka, bukankah yang sedang terluka seharusnya diberi waktu untuk menyembuhkan diri?. Dari banyaknya hal, kenapa ia harus memikirkan perempuan ujung jalan itu? Apa hanya karena perempuan itu sedang memakai baju warna merah muda seperti yang ia sedang kenakan? Kara memang selalu seperti itu, ia memiliki pandangan sendiri yang jarang dilihat oleh orang lain.   Kara melanjutkan kegiatanannya, ia membuka lagi tulisan-tulisan usangnya, yang mungkin saja tulisan-tulisan itu sempat terinintimidasi oleh segala angka-angka yang mengelilingi dari waktu ke waktu.       Sukoharjo, 15 Juli 2023