Langsung ke konten utama

JOURNEY #4


 

Wah Selamat berjumpa kembali teman-temanku, rasanya sudah lama sekali yaa Aku tidak menulis. Hampir seKitar 5 bulan ini Aku tidak membagi ceritAku kembali. Banyak sekali yang ingin Aku bagi dengan kalIan, sebuah cerita yang sederhana tapi bagiku sangat menarik.

Kamu tahu bagaimana rasanya sudah berlelah-lelah untuk semangat tapi tiba-tiba ada yang mengacaukan rencanamu? Jika pernah sepertinya Aku dan Kamu adalah manusIa yang beruntung. Kenapa? Karena Kita diberi kesempatan untuk menyadari lebih dulu bahwa mengacaukan semangat orang lain bukanlah suatu prestasi yang perlu dibanggakan.

Kalau Kamu bertanya apakah saat ini Aku sedang mengalaminya? Aku akan menjawab “Aku sudah bangkit”. Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang mungkin secara tidak sengaja membuatku kacau akan rencana hebatku. Tapi Aku tahu, bahwa Ia tidak tahu kalau itu adalah salah satu rencana yang ku persIapkan dengan kemantapan. Lagi-lagi Aku memang terlalu sensitf menjadi manusIa, tapi Aku mensyukurinya. 

Sakit yang lalu membuatku berfikir, bahwa apa yang Aku rencanakan, apa yang Aku persIapkan dan apa yang Aku sudah lakukan adalah sIa-sIa dan kesalahan. Bagaimana rasanya ketika hatimu tiba-tiba berfikir seperti itu? Kacau? Pasti. Tapi bagaimanapun juga menyerah bukanlah jalan utama bukan? Menyerah juga bukan jalan terakhir bagiku. 

Banyak hal yang Aku tahu dari kejadIan kemarin, bahwa Aku mempunyai value yang sangat Aku banggakan. Entah bagi orang lain itu hanya sesuatu yang remeh tapi Aku sangat bangga akan pencapaIanku. Yang Aku tahu, setIap orang itu berbeda dalam melihat sesuatu. Kita tidak bisa mengcompare segala sesuatu berdasarkan standar Kita. Terlebih merasa Kita memiliki value lebih dari orang lain. 

Hal kemarin juga tidak menjadikan ku menutup diri atau tidak ingin bertemu dengan orang lain. Aku bahkan ingin bertemu dengan banyak orang yang mana mereka bangga akan pencapaIan mereka selama ini. Aku ingin bertemu bukan untuk memuji tapi untuk memberikan apresIasi atas usaha kerasnya. Dan Aku bahagIa bisa mendengarkan cerita nya secara langsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REDUP

  Redup bergelayut diujung langit Mimpi kembali menanyakan dimana tempatnya   Cahaya kecil dilangit bagian selatan itu mulai menolehku Tersenyum kecil melihat kabarku kini   Aku mulai memikirkan dimana letak pasti mimpiku kini, Atau jangan-jangan aku sendiri yang belum meletakkannya Kalau memang benar aku belum meletakkannya, mengapa aku terlalu terburu-buru mencarinya?   Cahaya itu melirikku kembali, Sepertinya ia tahu dimana letak mimpiku Jika ia tahu kenapa ia tidak memberitahuku? Aku mulai memikirkan kembali Apakah ia masih berada ditengah laut yang sedang bertengkar dengan ombak? Atau masih berada ditanah gersang berteman dengan debu-debu kasar?       27 Februari 2021

JOURNEY #6

Hallo semuanya, teman nyata dalam jarakku. Bagaimana kabar kalian? Harapku semoga Tuhan melindungi kita semua dan mendekatkan hal baik untuk kita. Untuk mengawali tulisan pertama ku di tahun   2020 ini, aku ingin bercerita sedikit. Sudah lama rasanya ya aku tidak menulis. Kemarin sempat berkeinginan untuk mencoba konsisten untuk menulis setiap pekan tapi ternyata cobaan lebih berat dibanding niatku hehehehe. Hari ini aku mendengar cerita dari teman lama yang sudah lama aku tak besua dengannya. Kita saling mempertanyakan hal yang serupa, bagaimana cara rezeki memilih jiwa sebenarnya?. Bagaimana bisa kita berusaha semaksimal mungkin tapi sesuatu yang kita impikan jatuh ke tangan orang lain? Dari percakapan hari ini aku juga sempat mendengar kalimat   “Aku capek susah terus. Aku ingin kaya dan bisa memilih aku ingin hidup seperti apa” jika sekilas ku pikir, sebenarnya tujuan utama kita bukanlah kaya. Melainkan merasa bahagia dan damai. Bahagia atas kehidupan yang s...

Sebuah Cerita Singkat Untuk Waktu Yang Utuh

  Kara mulai menertawakan dirinya lagi saat ini, sedang apa ia berharap akan bertemu dengan burung gereja yang kemarin lusa ditemuinya. Ia bertanya-tanya, apakah pesannya untuk perempuan diujung jalan kemarin benar-benar tersampaikan?, seharusnya ia tidak berharap. Mengapa? Bukankah burung gereja yang ia temui kemarin sedang terluka, bukankah yang sedang terluka seharusnya diberi waktu untuk menyembuhkan diri?. Dari banyaknya hal, kenapa ia harus memikirkan perempuan ujung jalan itu? Apa hanya karena perempuan itu sedang memakai baju warna merah muda seperti yang ia sedang kenakan? Kara memang selalu seperti itu, ia memiliki pandangan sendiri yang jarang dilihat oleh orang lain.   Kara melanjutkan kegiatanannya, ia membuka lagi tulisan-tulisan usangnya, yang mungkin saja tulisan-tulisan itu sempat terinintimidasi oleh segala angka-angka yang mengelilingi dari waktu ke waktu.       Sukoharjo, 15 Juli 2023