Langsung ke konten utama

PUISI #2



Aku mengejar senja dipelupuk matamu
Mengharapkan kehadiran dalam realita
Mengiyakan segala cara dalam angan semata
Teringat aduan karang pada gelombang

Meski pelupuk itu mengenyahkan harapan
Namun senja tetap sedia mengajariku
Menghindarkan dalam kemunafikan
Mengejar ego dan menendangnya jauh
Terngiang ketukan kecut disudut hatimu
Yang menjauh dan semakin hilang
Bagai abu bergerak menghilang ditelan angin pasang

SEKAR RINI ARUM PRAMUDITA
Sukoharjo, 12 September 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REDUP

  Redup bergelayut diujung langit Mimpi kembali menanyakan dimana tempatnya   Cahaya kecil dilangit bagian selatan itu mulai menolehku Tersenyum kecil melihat kabarku kini   Aku mulai memikirkan dimana letak pasti mimpiku kini, Atau jangan-jangan aku sendiri yang belum meletakkannya Kalau memang benar aku belum meletakkannya, mengapa aku terlalu terburu-buru mencarinya?   Cahaya itu melirikku kembali, Sepertinya ia tahu dimana letak mimpiku Jika ia tahu kenapa ia tidak memberitahuku? Aku mulai memikirkan kembali Apakah ia masih berada ditengah laut yang sedang bertengkar dengan ombak? Atau masih berada ditanah gersang berteman dengan debu-debu kasar?       27 Februari 2021

JOURNEY #6

Hallo semuanya, teman nyata dalam jarakku. Bagaimana kabar kalian? Harapku semoga Tuhan melindungi kita semua dan mendekatkan hal baik untuk kita. Untuk mengawali tulisan pertama ku di tahun   2020 ini, aku ingin bercerita sedikit. Sudah lama rasanya ya aku tidak menulis. Kemarin sempat berkeinginan untuk mencoba konsisten untuk menulis setiap pekan tapi ternyata cobaan lebih berat dibanding niatku hehehehe. Hari ini aku mendengar cerita dari teman lama yang sudah lama aku tak besua dengannya. Kita saling mempertanyakan hal yang serupa, bagaimana cara rezeki memilih jiwa sebenarnya?. Bagaimana bisa kita berusaha semaksimal mungkin tapi sesuatu yang kita impikan jatuh ke tangan orang lain? Dari percakapan hari ini aku juga sempat mendengar kalimat   “Aku capek susah terus. Aku ingin kaya dan bisa memilih aku ingin hidup seperti apa” jika sekilas ku pikir, sebenarnya tujuan utama kita bukanlah kaya. Melainkan merasa bahagia dan damai. Bahagia atas kehidupan yang s...

Sebuah Cerita Singkat Untuk Waktu Yang Utuh

  Kara mulai menertawakan dirinya lagi saat ini, sedang apa ia berharap akan bertemu dengan burung gereja yang kemarin lusa ditemuinya. Ia bertanya-tanya, apakah pesannya untuk perempuan diujung jalan kemarin benar-benar tersampaikan?, seharusnya ia tidak berharap. Mengapa? Bukankah burung gereja yang ia temui kemarin sedang terluka, bukankah yang sedang terluka seharusnya diberi waktu untuk menyembuhkan diri?. Dari banyaknya hal, kenapa ia harus memikirkan perempuan ujung jalan itu? Apa hanya karena perempuan itu sedang memakai baju warna merah muda seperti yang ia sedang kenakan? Kara memang selalu seperti itu, ia memiliki pandangan sendiri yang jarang dilihat oleh orang lain.   Kara melanjutkan kegiatanannya, ia membuka lagi tulisan-tulisan usangnya, yang mungkin saja tulisan-tulisan itu sempat terinintimidasi oleh segala angka-angka yang mengelilingi dari waktu ke waktu.       Sukoharjo, 15 Juli 2023